Sdr. T* S* yth.,
sungguhpun si-penulis ini beritanya Mo* R*, pembantu rektor ke-4
di *** S*, tapi rupanya mesti ada yang beri tahu, bahwa bagi seorang
akademikus baiknya membaca dulu material yang ada, sebelum menyimpulkan
yang bukan-bukan untuk umum dalam essay macam ini.
|
| |
> 11 September 2001 yang lalu. Beberapa jam setelah peristiwa itu, GW. Bush,
> dan juga koran Amerika Serikat mengatakan bahwa: "USA under attack !",
> kemudian segera mencari kambing hitam di luar USA: Osamah bin Laden dengan
> jaringan Al Qaedah-nya. |
Celaka bagi penggemar-penggemar mengambinghitamkan Amerika, adalah Usamah
bin Ladin sendiri, dalam diskusi yang direkam video, yang mengakui peran
dirinya serta al-Kaidah yang dipimpinnya itu dalam 11-S. Kemudian bahkan
dibeberkan terang-terangan untuk umum liwat penyiar TV al-Jazirah. Jutaan
penonton TV yang menyaksikan, terutama lagi yang beragama Islam di Timur
Dekat. Lha Pak Pembantu Rektor ini kok malah bagaikan katak di bawah
tempurung?
Sesungguhnya, kalau mau mencari kekurangan-kekurangan AS, apalagi sebelum
berakhirnya perang dingin, itu tidak sulit, tidak usah mengada-ngada.
Sedangkan kalau malah merasa perlu mengada-ngada, berarti sudah menganggap
AS itu sedemikian sempurnanya, sehingga untuk menjelekkan terpaksa menipu.
Dan siapakah yang ditipu ini? Tak lain, terutama umat sendiri.
|
| |
> ............................................................... Setiap
> disinformasi akan diikuti oleh disinformasi berikutnya yang tidak akan
> sustainable. |
Bukan demikian yang paling celakanya, melainkan setiap disinformasi itu
terutama menipu diri, membodoh-bodohi golongan sendiri. Senjata makan
tuan. Masih untung kalau tidak sustainable, maka keadaan tertipu sendiri
itu tidak sampai sutained.....
Kaum Muslimin Indonesia memang benar "dibodoh-bodohi" sebagiannya, tetapi
bukan oleh George W. Bush atau pers AS, melainkan oleh sementara "guru-
guru"-nya sendiri yang macam begini ini!
Sesungguhnya, kepresidenan George W. Bush waktu itu sedang kembang-kempis,
kepastian pemilihannya tidak jelas, karena hasil hitungan suara di Florida
yang menentukan pemilihannya itu banyak yang menyangsikan. Kalau Al Gore
tidak cepat pasrah dengan hasil perhitungan demi menjaga kestabilan sistem
kenegaraan, keadaan labil masih lama bertele-tele. Lepas dari itupun, ada
golongan akademisi yang mulai hitung ulang jumlah suara di Florida itu.
Dalam kenyataan, 11-S itu tidak merugikan Presiden Bush, dan juga tidak
memperlemah Amerika Serikat sebagaimana yang diharapkan oleh Usamah.
Justru sebaliknya, kedudukan Presiden Bush menjadi mantap dan kokoh
benar, sampaipun kelompok akademisi yang menggelar hitungan ulang tsb.,
setelah hasilnya diketahui, memutuskan tidak mengumumkannya agar tidak
menggoyahkan kedudukan presiden saat keamanan nasional AS terancam.
Secara internasional pun, dunia yang tengah ragu-ragu menghadapi
penggantian Presiden Clinton yang umumnya dikagumi itu oleh Bush yang
bercitra kekoboi-koboian, dengan serempak kompak berdiri dibelakang AS
menghadapi teror internasional.
Sesungguhnya, kalau tidak begitu banyak korban mati, kita bisa kasihan
kepada Si Usamah ini: maksud hati mengganyang Amerika, tetapi kehendak
Allah ternyata malah sebaliknya dari itu. Tetapi Usamah tidak berhak
minta kasihan, melainkan justru murid-muridnya yang tertipu oleh gurunya
itu. Bersedia mengorbankan hal yang paling berharga, nyawa itu sendiri,
demi satu tujuan yang disangkanya mulia. Tahunya, mati konyol sambil
turut mematikan ribuan orang lain yang tidak bersalah. Padahal mereka
bukan orang putus asa yang tinggal mencampakkan kehidupan yang tak berhari-depan.
Mereka itu orang-orang muda yang sempat berpendidikan dan menuntut
keahlian di perguruan tinggi luarnegeri, temasuk tenaga harapan bagi
pembangunan di negerinya masing-masing. Malah yang demikian inilah yang
oleh Usamah itu diputar kepalanya untuk mencampakkan kehidupannya itu
demi satu kepetualangan yang sesat dan jahat.
|
| |
> .................................................... Sasaran-sasaran yang
> mustinya diserang oleh Al Qaedah adalah sasaran-sasaran kepentingan Amerika
> Serikat di Indonesia seperti Exxon di Aceh, Freeport di Papua, dsb.,
> bukannya Bali dan turis-turis Australia. |
Siapa bilang? Apakah 11 September 2001 itu menyerang pusat filem porno di
Los Angeles, atau pusat perjudian di Las Vegas? Tidak, melainkan justru
menara kembar World Trade Center -- satu pusat perniagaan dunia yang
boleh diperkirakan penghuninya dari seluruh dunia, termasuk juga banyak
tenagakerja Muslim alim-alim. North Tower: tingkat 60, Asahi Bank (Jepang);
tk. 45, China Construction America (Tionghoa); tk. 37, Hyundai Securities
(Korea). Eropa pun banyak yang kena: tk. 7, Deutsche Bank; South Tower:
tk. 48, Allianz; tk. 37, Siemens; tk. 32 Commerzbank Jerman semua;
tk. 35, ABN-AmRo (Belanda). Jadi sekiranya bom di Jl. Legian itu benar
pekerjaannya al-Kaidah, maka dari segi yang anda ajukan itu sudah cocoklah
(kurang cocoknya malah dalam segi lain yang tidak anda singgung).
Demikianlah kalibernya Si Usamah itu. Tak seyogyanya dibesar-besarkan,
apalagi diagung-agungkan, melainkan mestinya dilaknat oleh segenap
umat Islam sedunia.
|
| |
> "Tindak lanjut" berikutnya adalah kemarahan orang Australia, dan kepergian
> orang-orang asing dari Indonesia akibat dianjurkan pergi meninggalkan
> Indonesia karena Indonesia dianggap merupakan sarang teroris. |
Salah. Kepergian banyak orang asing itu terutama karena aparat negara
dilihatnya terlalu enggan menindaki kegiatan terror di Indonesia yang
tidak sejak 12 Oktober ini saja.
Lain halnya dengan Malaysia, Singapura dan Filipina yang segera bertindak.
Sedangkan apabila anda perhatikan di internet, banyak sekali tayangan
orang Amerika dan Australia yang menyatakan kesetiaannya kepada Pulau Bali
dan menyerukan agar orang jangan menyalahkan orang Bali yang mereka puji
keramah-tamahannya itu.
|
| |
> ............................................ Persoalannya adalah : kita
> -termasuk elite negeri ini - mau memilih teori "serangan teroris", atau
> "Indonesia diserang!". |
Mengapa harus memilih? Seruan "America is under attack!" kemarin itupun
tidak dipertentangkan dengan penilaian "this is an act of terrorism". Kejadian
seperti pemasangan bom di jalan Legian itu memang satu perbuatan teroris,
dan sekaligus itu memang satu serangan melawan Indonesia! Biar bagaimana
pun, tetap harus kita buru habis-habisan teroris yang menyerang Indonesia
itu sampai tertangkap, dan menghukumnya. Tak soal, teroris itu apa agama
dan kebangsaannya.
|
| |
> .............................................. para backpackers bersandal
> jepit di Kuta yang tewas akibat Bom Legian tersebut bagi master mind perang
> persepsi ini adalah besaran yang disposable (tidak berarti untuk
> dimusnahkan), dibandingkan kepentingan mereka untuk menghancurkan bangsa
> ini. |
Sinis benar, anda ini. Menuduh orang lain mendakwa tanpa alasan, padahal
udang yang di balik batunya itu rupanya mencari kesempatan mendakwa orang
lain dengan nol bukti!
Setiap pembaca yang sedikit berpikir akan sadar, bahwa yang sejak tiga
tahun asyik berkonspirasi menghancurkan bangsa Indonesia itu justrulah
oknum-oknum yang mengobarkan teror dan kekerasan SARA di setiap seluk
Nusantara. Sedangkan Australia, Amerika Serikat, dan Eropa sudah kewalahan
benar, bagaimana menghimbau aparat negara negeri ini untuk sudilah kiranya
sedikit berupaya sungguh-sungguh untuk menjamin sekadar ketrampilan, agar
sekurang-kurangnya tanaman modal mereka di negeri ini bisa beroperasi
sedikit banyak stabil, mendatangkan devisa dan mata pencaharian serta
meningkatkan ekspor di satu pihak, dan mengeruk laba di pihak lain.....
Bom di Bali itu sangat merugikan mereka, tetapi mungkin menguntungkan
oknum-oknum yang sudah bertahun-tahun ini mendestabilisasi kehidupan
masyarakat di Indonesia, mungkin dengan perhitungan memulihkan kembali
tatanan Orde Baru. Lha anda sendiri, sampai menulis essay macam ini...?
Apakah benar walaupun bergelar akademis kurang berpengetahuan umum,
ataukah sebenarnya karena juga menyimpan udang di balik batu seperti itu?
Terus terang saja dong....
Wassalam, Waruno Mahdi
Index
|