Broadcast May 31 on Mondia and PDI-Mega lists, June 4 on Wahana mailing list
in response to "Percayalah: 'Langit Tak Akan Runtuh'" on Wahana May 30, 2001.
(mounted 6-Jun-01)
________________________________________________________
Teman-teman TRW yang baik,
Saya turut sedih melihat kedudukan Presiden reformasi pasca-Soeharto
yang pertama sekarang sangat terancam benar.
Tetapi, lebih sedih lagi karena sebagiannya mungkin tidak lepas
dari kekeliruan Gus Dur sendiri.
Perlu kita ingat, bahwa yang berdasarkan Pemilu kemarin itu sesungguhnya
berhak dipilih jadi presiden itu memang Mbak Mega. Tetapi karena sikap
konyol persekutuan status-quo dan poros klerikal non-sekularis yang
menggembarkan seakan-akan Islam tidak membolehkan perempuan menjadi
presiden, terpaksa mencari jalan keluar lain. Maka masih untung untuk
reformasi, bahwa yang terpilih kemudian Gus Dur. Tetapi, apabila di
kemudian ada kemungkinan untuk meniadakan siasat konyol anti-perempuan
kemarin itu, maka pada prinsipnya, mestinya, ya merasa senang kalau
kepresidenen bisa kembali ke tangan yang seharusnya sejak semula
mendapat: yakni Mbak Mega. Mestinya......
Tapi mari kita kesampingkan dulu macam-macam reserve terhadap Mbak
Mega jadi presiden. Kita lihat dulu formalnya sajapun, memang beliau
yang berhak.
Yang agak runyam bagi reformasi, adalah bahwa yang membuka jalan untuk
ini bukan kekuatan reformasi, melainkan bahkan status-quo/poros. Disini,
saya pikir, tampak kekeliruan Gus Dur yang kalah set. Karena mestinya,
setelah menjadi kenyataan kemungkinan Mbak Mega menjadi presiden berkat
dorongan statusquo/poros, lebih baik Gus Dur sendiri yang kemudian
mengambil inisiatif untuk merealisasi itu. Dan Gus Dur sendiri memanggil
sidang MPR.
Untuk itu ada alasan kuat: Dulu Mbak Mega ditolak haknya menjadi
presiden dengan dalih beliau adalah perempuan. Maka, kalau sekarang
beliau akan dibolehkan kembali menjadi presiden, mesti ada penyelesaian
yang tuntas, artinya, mesti ada pendasaran hukum yang menegaskan bahwa
perempuan dan lelaki sama haknya untuk menduduki posisi pimpinan
dalam negara dan pemerintah. Artinya, mestinya Gus Dur yang mengajukan
hal itu, dengan maksud meletakkan jabatan demi bisa terpilihnya Mbak
Mega. Karena kalau MPR akan bersidang, undang-undang demikian ini dulu
yang perlu dilempangkan, sebelum bisa memilih Mega sebagai Presiden.
Wong terbukti: satu setengah tahun yang lalu masih ada halangan formal
terhadap pemilihan Mbak Mega, maka sebelum beliau bisa dipulih
sekarang, halangannya itu mesti dikesampingkan dulu secara formal,
secara undang-undang.
PDIP pasti tidak mungkin menolak ataupun bahkan "bungkam" alias
"netral". PAN dan Golkar pun susah untuk menolak. Tinggal poros itu
yang akan dilema, dihadapkan kepada buah malakamang. SYUKUR!!!
Gus Dur mesti maklum, bahwa (a) tanpa dukungan PDIP, beliau tidak
bisa bertahan sebagai presiden, dan (b) kalau Mega jadi presiden,
reformasi hanya bisa terjamin kalau itu dengan PKB, dan bukan melawan
PKB. Karena itu, memang jalan keluar satu-satunya, Gus Dur mengundurkan
diri dan membuka jalan kepada Mbak Mega. Untuk itu, memanggil sidang
luarbiasa MPR dan pertama-tama mencamkan hak perempuan menjadi presiden
sebagai undang-undang ataupun tambahan kepada UUD.
Sekarang soal kedua: di satu milis ada orang bertanya: apakah Mega
itu kuda Troya orba? Saya pikir, formulasinya sedikit keliru,
mestinya apakah kuda Troya TNI?
Jawabannya, kemungkinan besar "Ya". Tetapi ini belum pasti berarti jelek.
Kita tahu, bahwa Gus Dur yang mula-mula mencoba menundukkan militer
itu kemudian gagal. Karena itu, ukuran "lebih baik" atau "lebih jelek"
harus kita ambil dari hal "gagal" itu.
Tak perlu disangsikan, yang berkuasa di tanahair adalah TNI. Terbukti
oleh pengalaman Gus Dur sendiri. Apakah TNI itu masih orba, memang
sangat masuk diakal, tetapi tidak pasti persis begitu. Perlu kita
pahami, bahwa kejadian reformasi secara legal hanyalah mungkin kalau
pihak berkuasa sendiri turut memahami keharusannya, artinya turut
memahami bahwa dirinya sendiripun sangat dirugikan kalau tidak ada
reformasi. Reformasi yang dipaksakan terhadap pihak berkuasa yang
melawan itu namanya bukan reformasi, melainkan revolusi. Untuk itu
perlu menghancurkan aparat negara lama dan membangun aparat negara
baru. Selama kita tidak maksud berevolusi, melainkan mau bereformasi,
akan tetap tergantung kepada lapisan sosial yang memimpin.
Sangat disayangkan, perwakilan politik klas menengah luar-Jawa
tidak mendukung usaha kekuasaan sipil untuk meluruskan kembali
prinsip "politik adalah panglima" sehingga akibatnya prinsip
malah "senapan adalah panglima" pulih kembali. Tetapi boleh jadi
"senapan" itu lambat laun mulai mengerti inti masalah, yaitu kalau
melanjutkan cara pemerintahan lama a la orba, Indonesia tambah
hancur. Maka segala kerukan hasil kkn dulu akan hambyar saja.
Wong situasi 3 tahun terakhir ini ya hasil ekonomi ala orba itu.
Untuk membawa lari kekayaannya keluar negeri pun sulit. Wong sudah
disinyalir bahwa pemerintah-pemerintah negeri industri tidak
bersimpati kepada orang-orang yang menterlantarkan Indonesia
sampai luluh lantak......
Karena itu, kita dapat juga menggambarkan dilema TNI sebagai
berikut: Mereka merasa juga perlu bereformasi, tetapi takut.
Karena pada saat sedang direformasi, TNI akan sangat peka, tak
bisa menangkis secara tuntas kalau kena serangan politik. Karena
itu mereka tidak berani bereformasi selama tidak yakin dirinya
aman. Kalau presidennya Mega, kiranya mereka merasa aman, maka
bisa berani bereformasi. Hanya saja, apakah ini bukan ilusi?
Boleh jadi. Untuk mencegah jangan sampai bahaya bahwa itu ilusi
isapan jempol itu terlalu akut, perlu supaya pada kepresidenen
Mbak Mega kelak itu, Gus Dur dengan PKB tetap sekutunya.
Kembalilah kita ke posisi semula yang dimasalahkan di atas: untuk
menyelamatkan reformasi, Gus Durlah yang harus berinisiatif, supaya
Mbak Mega menjadi presiden.
Alternatifnya ya, menurut teori, cuma pemberontakan bersenjata
lho. Tapi selain pendukung Gus Dur di Jateng/Jatim, mana massa
pemberontaknya? Mau berontak kalau PDIP di pihak yang diberontaki?
Malah satu ilusi yang lebih besar lagi, bukan?
Pemberontakan harus dicegah. Dan mencegahnya hendaknya jangan dengan
mendrop pasukan payung di Jatim, melainkan dengan jalan Gus Dur
sendiri membuka jalan untuk Mega.
Salam, Waruno
Index